Minggu, 14 September 2014

Tafsir Al Qur'an Surat Ali Imran Ayat 7

3:7

Artinya : "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang orang yang berakal". (QS. 3:7)

Pada ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa Alquran yang diturunkan-Nya itu di dalamnya ada ayat-ayat yang Muhkamat dan ada yang Mutasyabihat. "Ayat yang Muhkamat" ialah ayat yang jelas artinya, seperti ayat-ayat hukum, dan sebagainya. "Ayat Mutasyabihat" ialah ayat yang tidak jelas artinya, yang dapat ditafsirkan dengan bermacam-macam penafsiran seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal-hal yang gaib dan sebagainya. Ayat-ayat Muhkamat dapat diketahui dengan mudah arti dan maksudnva sedang ayat-ayat yang Mutasyabihat itu ialah ayat-ayat yang sukar diketahui arti dan maksudnya yang sebenarnya hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya tentang tujuan Allah menurunkan ayat-ayat Mutasyabihat itu. Menurut sebagian para mufassir ialah:


  1. Untuk menguji iman dan keteguhan hati seseorang muslim kepada Allah, iman yang benar hendaklah disertai dengan penyerahan diri dalam arti yang seluas-luasnya kepada Allah SWT. Allah SWT menurunkan ayat-ayat yang dapat dipikirkan artinya dengan mudah dan Dia menurunkan ayat-ayat yang sukar diketahui makna dan maksud yang sebenarnya, yaitu ayat-ayat Mutasyabihat. Dalam menghadapi ayat-ayat yang Mutasyabihat ini, manusia akan merasa bahwa dirinya bukanlah makhluk yang sempurna, ia hanya di beri Allah pengetahuan yang sedikit karena itu ia akan menyerahkan pengertian ayat-ayat itu kepada Allah SWT Yang Maha Mengetahui.

  2. Dengan adanya ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat itu kaum muslimin akan berpikir sesuai dengan batas-batas yang diberikan Allah; ada yang dapat dipikirkan secara mendalam dan ada pula yang sukar dipikirkan, lalu diserahkan kepada Allah.

  3. Para nabi dan para rasul diutus kepada seluruh manusia yang keadaannya berbeda-beda, misalnya berbeda kepandaiannya, kemampuannya dan kekayaannya; berbeda pula bangsa, bahasa dan daerahnya. Karena itu cara penyampaian agama kepada mereka itu hendaklah disesuaikan dengan tingkatan keadaan mereka itu dan dengan tingkatan bahasa yang sesuai dengan kemampuan mereka; ada yang mudah dipahami dan ada yang sukar dipahami. Yang mudah untuk orang yang kurang mempunyai ilmu, sedang yang sukar untuk orang yang dalam ilmunya.



Dalam pada itu Allah SWT. menerangkan sikap manusia dalam memahami dan menghadapi ayat-ayat yang mutasyabihat, yaitu:


  1. Orang-orang yang hatinya tidak menginginkan kebenaran, mereka jadikan ayat-ayat itu untuk bahan fitnah yang mereka sebarkan di kalangan manusia dan mereka mencari-cari artinya yang dapat dijadikan alasan untuk menguatkan pendapat din keinginan mereka.

  2. Orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang mendalam dan ingin mencari kebenaran, mereka haruslah mencari pengertian yang benar, dari ayat itu. Bila mereka belum atau tidak sanggup mengetahuinya, mereka berserah diri kepada Allah sambil berdoa din mohon petunjuk.



Pada akhir ayat ini Allah SWT menerangkan sifat-sifat orang-orang yang dalam ilmunya, yaitu orang-orang yang suka memperhatikan makhluk Allah, suka memikirkan dan merenungkannya. Ia berpikir semata-mata karena Allah dan untuk mencari kebenaran.

Tafsir Al Qur'an Surat Ali Imran Ayat 5-6

3:5

Artinya : "Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit".

Allah yang Maha Kuasa, Maha Gagah Perkasa, dan menyediakan siksaan itu, demikian luas kekuasaanNya, sehingga tidak ada yang tersembunyi sesuatu, baik di bumi maupun di langit. Berjuta-juta bintang di langit, setiap bintang diketahuiNya keadaannya. Setiap angin yang berembus adalah atas kehendakNya. Setiap awan yang mengejuju di udara adalah atas ketentuanNya. Baik di bumi, dengan bintang-bintang dan tumbuhtumbuhannya atau lautan dengan segala macam isinya dan ikannya. Atau di bawah kulit bumi dengan logam dan minyak tanahnya, Dia. al-Hayyu, yang Hidup dan Al-Qayyum, Yang Berdiri dengan SendiriNya, Yang mengetahui semuanya.

Tidaklah seorang juapun makhluk yang dapat menandingi menyamai atau mendekati sekalipun kekuasaan dan pengetahuan yang maha luas. Dan ini sudah suatu bayangan kepada utusan Najran, bahwasanya Isa Almasih, makhluk dan utusan Allah itupun tidaklah mempunyai pengetahuan seluas itu, meliputi seluruh langit dan bumi. Sebab dia bukan Tuhan.

3:6

Artinya : "Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".

Sudah beribu-ribu tahun manusia ditakdirkanNya hidup dalam dunia ini, sudah beribu juta manusia yang mati dan 3.000.000.000 (tiga milyar) manusia yang ada sekarang, dan inipun akan mati dan akan datang lagi berjuta juta manusia sampai hari kiamat, namun tidak ada dua orang yang serupa, baik bentuk muka atau bentuk suara ataupun sidik jari (rajah tangan).

Semuanya itu Dia yang telah membentuknya, sejak lagi di alam rahim ibu, bahkan sejak lagi masih setetes mani. Tidak ada kekuasaan lain yang menandingi itu, dan tidakpun Isa Almasih, sebab dia hanya makhluk.

Sabtu, 13 September 2014

Tafsir Al Qur'an Surat Ali Imran Ayat 4

Artinya : "Sebelum (Al quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)".(QS. 3:4)

Pada ayat ini diterangkan bahwa sebelum Alquran diturunkan, Taurat dan Injil menjadi petunjuk bagi manusia, dan kemudian diturunkanlah Al Furqan yaitu Alquran. Pada akhir ayat ini Allah SWT. mengancam dengan azab yang pedih terhadap orang-orang yang tetap ingkar din tidak mau tahu dengan kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada para rasul, orang-orang yang tidak mau menggunakan akal pikirannya untuk membedakan antara kepercayaan yang benar dan yang salah, antara agama-agama yang diridai Allah dengan yang tidak diridai-Nya. Mereka semua akan dimasukkan ke dalam neraka. Tidak ada sesuatupun yang dapat merubah keputusan Allah dan tidak ada yang dapat mengelakkan dan mempertahankan diri dari azab-azab Nya. Allah akan membalasi segala bentuk keingkaran dan pembangkangan terhadap hukum-hukum Nya serta mengazab pelaku pelakunya dengan azab yang setimpal.

Tafsir Al Qur'an Surat Ali Imran Ayat 3

3:3

Artinya : "Dia menurunkan Al Kitab (Al quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil", (QS. 3:3)

Ayat yang lalu telah menerangkan bahwa Dialah Allah yang hidup kekal, terus menerus mengatur dan menjaga makhluk-Nya, Dialah Tuhan yang berhak disembah. Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang berhak disembah itu benar-benar telah menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad saw dengan perantaraan Jibril, dan menegaskan bahwa sebelum menurunkan Alquran,

Allah SWT telah menurunkan pula kitab-kitab kepada para Nabi yang terdahulu, yang diutus sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw, misalnya kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa as., kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. dsb.

Alquran mengakui kebenaran isi kitab-kitab yang telah lalu sebagaimana kitab-kitab yang telah lalu itu membenarkan isi Alquran sesuai dengan yang diisyaratkan kitab-kitab itu.

Penegasan dan pengakuan ini hanyalah secara garis besarnya saja, tidak secara terperinci, yaitu Allah SWT telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat dahulu, dan Allah SWT telah menurunkan wahyu kepada mereka, seperti Taurat, Injil dan sebagainya Mengenai isi dari kitab-kitab itu tidak dijelaskan Alquran. Beriman kepada penegasan dan pengakuan ayat itu termasuk iman kepada Allah SWT.

Sebagaimana halnya dengan Alquran yang mengakui bahwa telah diutus para nabi dan rasul kepada umat-umat yang terdahulu dan telah diturunkan kepada mereka kitab-kitab, maka kitab-kitab yang dahulupun mengisyaratkan dan mengakui bahwa pada akhir zaman nanti Allah SWT akan mengutus seorang Nabi terakhir, Nabi penutup dan kepada Nabi itu akan diturunkan Allah pula sebuah kitab; yang berisi pokok-pokok dari risalah yang di bawa Nabi-nabi yang terdahulu.

Kitab Taurat adalah Kitab suci Agama Yahudi, agama yang dianut oleh orang-orang yang mengakui sebagai pengikut Nabi Musa as. Orang Nasrani menjadikan Taurat salah satu bahagian dari isi Al-Kitab yang diberi judul: "Wasiat Lama".

Kitab Taurat adalah Kitab suci Agama Yahudi, agama yang dipegangi orang Yahudi maupun yang disebut oleh orang Nasrani "Wasiat Lama", maka ada suatu pikiran dan perasaan yang timbul, yaitu bahwa Kitab Taurat atau Wasiat Lama yang ada sekarang tidak semata-mata berisi wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa as, sebagaimana yang ditegaskan oleh ayat ini, tetapi telah ada campur tangan manusia di dalamnya. Hal ini diakui kebenarannya oleh Wasiat Lama Di dalam Wasiat Lama diterangkan bahwa Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, telah pernah hilang, kemudian diketemukan oleh Imam Hilkija sewaktu orang membongkar timbunan uang di rumah Tuhan. Kitab itu dibawa dan dibacakan oleh Sufyan di hadapan raja Yahudi. Maka rajapun marah dan dikoyak-koyaknyalah Kitab itu karena isi Al-Kitab itu bertentangan dengan keinginan beliau. Dalam pada itu tidak didapat keterangan tentang asal usul Wasiat Lama yang ada sekarang.

Kitab Injil adalah kitab suci agama Nasrani. Di dalam "Al Kitab", Injil termasuk bahagian yang diberi judul "Perjanjian Baru". Sebagaimana Taurat, maka di dalam lnjilpun banyak didapati yang bukan wahyu dari Tuhan, seperti sabda atau ucapan pengikut-pengikut setia Nabi Isa as, yang hidup setelah beliau meninggal dunia Dalam pada itu bahasa Injil yang terkenal pada saat ini bukanlah bahasa yang dipahami oleh Nabi Isa as.

Menurut ayat ini dan ayat-ayat Alquran yang lain seluruh isi Taurat dan Injil adalah wahyu dari Allah SWT, yang disampaikan kepada Nabi Musa as dan Nabi Isa as yang berisi pokok-pokok risalah yang dibawanya, tidak ada sedikitpun terdapat di dalamnya yang berupa perkataan karangan manusia dan sebagainya.

Mengenai Taurat yang ada sekarang bukanlah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, demikian pula Injil bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as karena di dalam kedua kitab-kitab itu terdapat karangan-karangan pengikut kedua Nabi itu yang datang kemudian.

Allah SWT berfirman:

يحرفون الكلم عن مواضعه ونسوا حظا مما ذكروا به ولا تزال تطلع على خائنة منهم إلا قليلا منهم



Artinya:

".....Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya semula, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu, (Muhammad) akan selalu melihat kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)........". (Q.S Al Maidah: 13 lihat juga Q.S An Nisa': 46)

Tafsir Al Qur'an Surat Ali Imran Ayat 2

ali imran

Artinya : "Allah--tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri". (QS. 3:2)

Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan yang berhak disembah tidak lain hanyalah Allah SWT yang hidup kekal, terus menerus mengatur dan menjaga makhluk-Nya. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada Tafsir Al Qur'an Surat Al Baqarah Ayat 255 sebagai berikut :

2:255

Artinya : "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar". (QS. Al Baqarah : 255)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada Tuhan selain Dia, hanya Dia sajalah yang berhak disembah. Adapun tuhan-tuhan yang lain yang disembah oleh sebagian manusia dengan alasan yang tidak benar memang banyak jumlahnya. Akan tetapi Tuhan yang sebenarnya hanyalah Allah semata-mata. Hanya Dialah Yang Hidup abadi, yang ada dengan sendiri-Nya dan Dia pulalah yang selalu mengatur makhluk-Nya tanpa ada kelalaian sedikit pun.

Kemudian ditegaskan lagi bahwa Allah swt. tidak pernah mengantuk. Orang yang berada dalam keadaan mengantuk tentu hilang kesadarannya sehingga ia tidak akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik padahal Allah swt. senantiasa mengurus dan memelihara makhluk-Nya dengan baik, tidak pernah kehilangan kesadaran atau pun lalai.

Karena Allah swt. tidak pernah mengantuk, sudah tentu Ia tidak pernah tidur karena mengantuk adalah permulaan dari proses tidur. Dan orang yang tidur lebih banyak kehilangan kesadaran daripada orang yang mengantuk.

Sifat Allah yang lain yang disebutkan dalam ayat ini ialah bahwa Dialah yang mempunyai kekuasaan dan yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang tak terbatas sehingga Dia dapat berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Semuanya ada dalam kekuasaan-Nya sehingga tidak ada suatu pun dari makhluk-Nya meskipun nabi-nabi dan para malaikat dapat memberikan pertolongan kecuali dengan izin-Nya apalagi patung-patung yang oleh orang-orang kafir dianggap sebagai penolong-penolong mereka.

Yang dimaksud dengan "pertolongan" atau "syafaat" dalam ayat ini ialah pertolongan yang diberikan oleh nabi kepada umatnya di hari kiamat untuk mendapatkan keringanan atau kebebasan dari hukuman Allah. Syafaat itu hanyalah akan berhasil apabila Allah memerintahkannya atau mengizinkannya.

Sifat Allah yang lain yang disebutkan dalam ayat ini ialah bahwa Allah senantiasa mengetahui apa saja yang terjadi di hadapan dan di belakang makhluk-Nya, sedang mereka tidak mengetahui sesuatupun dari ilmu Allah, melainkan sekedar apa yang dikehendaki-Nya untuk mereka ketahui. Kursi Allah (yaitu ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tiada merasa berat sedikit pun dalam memelihara makhluk-Nya yang berada di langit dan di bumi, dan di semua alam ciptaan-Nya. Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Mereka tidak mengetahui ilmu Allah swt. kecuali apa yang telah dikehendaki-Nya untuk mereka ketahui. Dengan demikian, yang dapat diketahui oleh manusia hanyalah sekedar apa yang dapat dijangkau oleh pengetahuan yang telah dikurniakan Allah kepada mereka, dan jumlahnya amat sedikit dibanding dengan ilmu-Nya yang luas. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya:

....dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S Al Isra': 85)

Tafsir Al Qur'an Surat Ali Imran Ayat 1

3:1

Artinya : "Alif laam miim". (QS. 3:1)

"Alif Lam Mim" termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini?

Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu:


  1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat.

  2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:



a. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.

b. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.

c. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya.

d. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian.

Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya."

Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.

Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut:


  1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata.

  2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah.

  3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.



Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi).

Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.

Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini:


  1. Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32)



Alasan-alasan mereka ialah:

a. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran:

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ



Artinya:

Dengan bahasa Arab yang jelas. (Q.S. Asy Syu'ara': 195)



Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

b. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ



Artinya:

Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 2)



Firman-Nya lagi:

وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ



Artinya:

....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Baqarah: 97)



Firman-Nya lagi:

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ



Artinya:

(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Ali Imran: 138)



Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk.

c. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ



Artinya:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40)



2.

a. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya.

Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)

b. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang.

Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)

c. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9)

d. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303)

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw."

Tafsir Al Qur'an Surat Al Maa'uun

بسم الله الرحمن الرحيم

107:1

Artinya : "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?" (QS. 107:1)

Dalam ayat ini Allah menghadapkan pertanyaan-Nya kepada Rasul-Nya. "Apakah engkau mengetahui orang yang mendustakan agama dan yang dimaksud dengan orang yang mendustakan agama? Pertanyaan ini dijawab pada ayat-ayat berikut.

107:2

Artinya : "Itulah orang yang menghardik anak yatim", (QS. 107:2)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan sebagian dari sifat-sifat orang yang mendustakan agama itu, ialah orang-orang yang menolak dan membentak anak-anak yatim yang datang kepadanya untuk memohon belas-kasihnya memberikan bantuan demi kebutuhan hidupnya. Penolakannya itu adalah sebagai penghinaan dan takaburnya terhadap anak-anak yatim itu.

107:3

Artinya : "Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin". (QS. 107:3)

Dalam ayat ini Allah menegaskan lebih lanjut sifat pendusta itu, yaitu dia tidak mengajak orang lain untuk membantu dan memberi makan orang miskin. Bila tidak mau mengajak orang memberi makan dan membantu orang miskin berarti bahwa ia tidak melakukannya sama sekali.

Berdasarkan keterangan tersebut di atas, bila seorang tidak sanggup membantu orang-orang miskin maka hendaklah ia menganjurkan orang lain agar melakukan usaha yang mulia itu.

107:4

Artinya : "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat', (QS. 107:4)

107:5

Artinya : "(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya", (QS. 107:5)

Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya tidak sampai ke hatinya. Dia lalai tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakannya oleh sendi anggotanya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lengah, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot.

107:6

Artinya : "orang-orang yang berbuat riya,(QS. 107:6)

Dalam ayat ini Allah menambah penjelasan tentang sifat orang pendusta agama yaitu: mereka melakukan perbuatan-perbuatan lahir hanya semata karena ria, tidak terkesan pada jiwanya untuk meresapi rahasia dan hikmahnya.

107:7

Artinya : "dan enggan (menolong dengan) barang berguna". (QS. 107:7)

Dalam ayat ini Allah menambahkan lagi sifat pendusta itu
yaitu; mereka tidak mau memberikan barang-barang yang diperlukan oleh orang-orang yang membutuhkannya, sedang barang itu tak pantas ditahan, seperti periuk, kapak, cangkul dan lain-lain. Penahanan barang-barang tersebut mencerminkan kerendahan budi.
Keadaan orang yang membesarkan agama berbeda dengan keadaan orang yang mendustakan agama, karena yang pertama tampak dalam tata hidupnya yang jujur. Adil, kasih sayang, pemurah dan lain-lain.

Sedangkan sifat pendusta agama ialah ria, curang, aniaya, takabur, kikir, memandang rendah orang lain, tidak mementingkan yang lain kecuali dirinya sendiri, bangga dengan harta dan kedudukan serta tidak mau mengeluarkan sebahagian dari hartanya, baik untuk keperluan perseorangan maupun untuk masyarakat.

Tafsir Al Qur'an Surat Al Kautsar

بسم الله الرحمن الرحيم

108:1

Artinya : "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak".(QS. 108:1)

Orang-orang musyrik di Mekah dan Orang-orang munafik di Madinah mencemoohkan dan mencaci-maki Nabi sebagai berikut:

a. Pengikut-pengikut Muhammad terdiri dari orang-orang biasa yang tidak mempunyai kedudukan, kalau agama yang dibawanya itu benar tentu yang menjadi pengikutnya pengikut-pengikutnya orang-orang mulia yang berkedudukan di antara mereka. Ucapan ini bukanlah suatu keanehan, karena kaum Nuh juga dahulu kala telah menyatakan yang demikian kepada nabi Nuh A.S. sebagaimana firman Allah:

فقال الملأ الذين كفروا من قومه ما نراك إلا بشرا مثلنا وما نراك اتبعك إلا الذين هم أراذلنا بادي الرأي وما نرى لكم علينا من فضل بل نظنكم كاذبين

Artinya:

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan 'kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". Q.S. (Hud): 27.


Sunatullah yang berlaku di antara hamba-hamba-Nya, bahwa mereka yang cepat menerima panggilan para rasul adalah orang-orang biasa, orang lemah karena mereka tidak takut kehilangan, karena mereka tidak mempunyai pangkat atau kedudukan yang ditakuti hilang. Dari itu pertentangan terus-menerus terjadi antara mereka dengan para rasul, tetapi Allah senantiasa membantu para rasul Nya dan menunjang dakwah mereka.

Begitulah sikap penduduk Mekah terhadap dakwah Nabi SAW. pembesar-pembesar dan orang-orang yang berkedudukan tidak mau mengikuti Nabi karena benci kepada beliau dan terhadap orang-orang biasa yang menjadi pengikut beliau.

b. Orang-orang Mekah bila melihat anak-anak Nabi meninggal dunia, mereka berkata, "Sebutan Muhammad akan lenyap dan dia akan mati punah". Mereka mengira bahwa kematian itu suatu kekurangan lalu mereka mengejek Nabi dan berusaha menjauhkan manusia dari Nabi SAW.

C. Orang-orang Mekah bila melihat suatu musibah atau kesulitan yang menimpa pengikut-pengikut Nabi, mereka bergembira dan bersenang hati serta menunggu kehancuran mereka dan lenyapnya sebutan mereka, lalu kembalilah kepada mereka kedudukan mereka yang semula, yang telah diguncangkan oleh agama baru itu.

Maka pada surah itu Allah menyampaikan kepada Rasul-Nya, bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik itu adalah suatu purbasangka yang tidak ada artinya sama sekali. Namun semua itu adalah untuk membersihkan jiwa-jiwa yang masih dapat dipengaruhi oleh isyu-isyu tersebut dan untuk mematahkan tipu daya orang-orang musyrik, agar mereka mengetahui bahwa perjuangan Nabi SAW., pasti akan menang dan pengikut-pengikut beliau pasti akan bertambah banyak.

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah memberi Nabi-Nya nikmat dan anugerah yang tidak dapat dihitung banyaknya dan tidak dapat dinilai tinggi mutunya, walaupun (orang musyrik) memandang hina dan tidak menghargai pemberian itu disebabkan kekurangan akal dan pengertian mereka. Pemberian itu berupa kenabian, agama yang benar, petunjuk-petunjuk dan jalan yang lurus yang membawa kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

108:2

Artinya : "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah". (QS. 108:2)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar mengerjakan salat dan menyembelih hewan korban karena Allah semata-mata, karena Dia sajalah yang mendidiknya dan melimpahkan karunia-Nya.

Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين

Artinya:

Katakanlah: "Sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Q.S. (Al An'am): 162-163.

108:3

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus". (QS. 108:3)

Sesudah Allah menghibur dan menggembirakan Rasul-Nya serta memerintahkan supaya mensyukuri anugerah-anugerah-Nya dan sebagai kesempurnaan nikmat-Nya, maka Allah menjadikan musuh-musuh Nabi itu hina dan tidak percaya. Siapa saja yang membenci dan mencaci Nabi akan hilang pengaruhnya dan tidak ada kebahagiaan baginya di dunia dan di akhirat.

Adapun Nabi dan pengikut-pengikutnya tersebut dan hasil perjuangannya akan tetap jaya sampai Hari Kiamat.

Orang-orang yang mencaci Nabi, bukanlah mereka tidak senang kepada pribadi Nabi, tetapi yang mereka benci dan tidak senang adalah petunjuk dan hikmah yang dibawa beliau, karena beliau mencela kebodohan mereka dan mencaci berhala-berhala yang mereka sembah serta mengajak mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala-berhala itu.

Sungguh Allah telah menepati janji-Nya dengan menghinakan dan menjatuhkan martabat orang-orang yang mencaci Nabi, sehingga nama mereka hanya diingat ketika membicarakan orang-orang jahat dan kejahatannya. Adapun kedudukan Nabi SAW. dan orang-orang yang menerima petunjuk beliau serta nama harum mereka diangkat setinggi-tingginya oleh Allah sepanjang masa.

Jumat, 12 September 2014

Tafsir Al Qur'an Surat An Nashr

110:1

110:2

Artinya : "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong", (QS. 110:1 & 2)

Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan apa yang harus dilakukan nabi-Nya pada saat penaklukan Mekah, yaitu apabila ia telah melihat pertolongan Allah terhadap agama-Nya telah tiba, dengan kekalahan orang-orang musyrik dan kemenangan di pihak Nabi-Nya, dan melihat pula orang-orang masuk agama Allah beramai-ramai dan berduyun-duyun, bukan perseorangan sebagaimana halnya pada permulaan dakwah.

110:3

Artinya : "Maka bertasbihlah dengan dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat". (QS. 110:3)

Bila yang demikian itu telah terjadi supaya ia mengagungkan Tuhannya dan mensucikan-Nya dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya, seperti ia menganggap terlambat datangnya pertolongan dan mengira bahwa Tuhan tidak menepati janji-Nya untuk meninggikan nikmat-Nya atas Nabi-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menghendakinya.

Mensucikan Allah hendaknya dengan memuji-Nya atas nikmat-nikmat yang dianugerahkan-Nya dan mensyukuri segala kebaikan-kebaikan yang telah dilimpahkan-Nya dan menyanjung-Nya dengan sepantasnya. Bila Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, memberi kesempatan kepada orang-orang kafir, bukanlah berarti Dia telah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beramal baik.

Kemudian mintalah ampun kepada Allah untuk dirimu dan untuk sahabat-sahabatmu yang telah memperlihatkan kesedihan dan keputus-asaan karena terlambat datangnya pertolongan Allah.

Bertobat dari keluh kesah adalah dengan mempercaya penuh akan janji-janji Allah dan dengan membersihkan jiwa dari pemikiran yang bukan-bukan bila menghadapi kesulitan. Walaupun ini berat untuk jiwa manusia biasa, tetapi ringan untuk Nabi-Nya sebagai insanul kamil, oleh sebab itu Ia menyuruh Nabi-Nya memohon ampunan-Nya.

Keadaan ini terjadi pula pada para sahabat yang memiliki jiwa yang sempurna dan menerima tobat mereka, karena Allah selalu menerima tobat hamba-hamba-Nya. Allah mendidik hamba-hamba-Nya melalui bermacam-macam cobaan dan bila merasa tidak sanggup menghadapinya harus memohon bantuan-Nya serta yakin akan datangnya bantuan itu. Bila ia selalu melakukan yang demikian niscaya menjadi kuat dan sempurnalah jiwanya.

Maksudnya, bila pertolongan telah tiba dan telah mencapai kemenangan serta manusia berbondong-bondong masuk Islam, hilanglah ketakutan dan hendaklah Nabi-Nya bertasbih menyucikan Tuhannya dan mensyukuri-Nya serta membersihkan jiwa dari pemikiran-pemikiran yang terjadi pada masa kesulitan. Dengan demikian keluh kesah dan rasa kecewa tidak lagi akan mempengaruhi jiwa orang-orang yang ikhlas selagi mereka memiliki keikhlasan dan berada dalam persesuaian kata dan cinta sama cinta.

Dengan turunnya surah An Nasr ini, Nabi memahaminya bahwa tugas risalahnya telah selesai dan selanjutnya ia hanya menunggu panggilan pulang ke Rahmatullah.

Ibnu Umar berkata: "Surah ini turun di Mina ketika Nabi mengerjakan Haji Wada', sesudah itu turun firman Allah:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي



Artinya:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku". (Q.S. Al Maidah: 3).



Nabi hidup hanya delapan puluh hari setelah turun ayat ini. Kemudian setelah itu turun ayat Kalalah, dan Nabi hidup sesudahnya lima puluh hari. Setelah itu turun ayat:

لقد جاءكم رسول من أنفسكم



Artinya:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri", (Q.S. At Tubah: 128).



Maka Nabi SAW. hidup sesudahnya tiga puluh lima hari. Kemudian turun firman Allah.

واتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله



Artinya:

"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah". Q.S. (Al Baqarah): 281.



Maka Nabi SAW. hidup sesudahnya dua puluh satu hari saja.

Tafsir Al Qur'an Surat Al Lahab

بسم الله الرحمن الرحيم

111:1

Artinya : "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa".(QS. 111:1)

Mengenai sebab turunnya surah ini diterangkan sebagai berikut :

خرج النبي صلى الله عليه وسلم إلى البطحاء فصعد الجبل فنادى يا صباحاه فاجتمعت إليه قريس فال: أرأيتم أن حدثتكم أن العدو مصبحكم أو ممسيكم أكنتم تصدقوني؟ قالوا نعم قال فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد. فقال أبو لهب ألهذا جمعتنا؟ تبأ لك !!! وفي رواية أنه قام ينفض يديه ويقول: تبا لك سائر اليوم ألهذا جمعتنا؟ فأنزل الله: تبت يدا أبي لهب وتب



Artinya:

Nabi Muhammad SAW keluar menuju suatu lapangan yang luas, lalu beliau mendaki bukit dan berseru: "Ya Shabahah (wahai waktu Subuh)!", maka kemudian berdatanganlah orang-orang Quraisy mengerumininya, beliau bersabda: "Bagaimana pendapat kamu, jika saya katakan kepadamu bahwa di seberang bukit ini ada musuh sedang mengintai untuk menyerbu di waktu petang, apakah kamu percaya?". Mereka menjawab: "Kami percaya!" Seterusnya beliau bersabda: "Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum menghadapi azab yang sangat dahsyat". Abu Lahab berkata: "Hanya untuk ini sajakah engkau mengumpulkan kami" celaka bagimu!". Menurut riwayat lain; Abu Lahab terus berdiri, menghempaskan kedua tangannya sambil berkata: "Celaka bagimu sepanjang hari, hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?". Lalu Allah menurunkan: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa". (H.R Bukhari)



Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Abu Lahab akan rugi dan binasa dan kata-kata ini sebagai kutukan dari Allah bagi Abu Lahab. Binasa pada kedua belah tangannya karena tangan adalah alat bekerja dan bertindak. Bila kedua belah tangan seseorang telah binasa berarti ia telah binasa.

Permulaan ayat ini adalah kutukan atas kebinasaan Abu Lahab dan penutupnya adalah sebagai keterangan dari Allah bahwa kutukan tersebut telah terbukti dan Abu Lahab pasti rugi di dunia dan akhirat.

111:2

Artinya : "Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan". (QS. 111:2)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa yang menjadi kebanggaan Abu Lahab dalam hidup yaitu harta dan kedudukannya yang sama sekali tidak dapat menghalanginya dari azab Allah pada Hari Kiamat. Begitu pula usahanya untuk memusuhi dan mengalahkan Nabi, Muhammad SAW. tidak berhasil sama sekali.

Abu Lahab sangat membenci Nabi dan paling gigih mengajak orang untuk menentang Nabi dan paling kasar menghadapi beliau.

Rabi'ah bin "Ubbad berkata:

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم في الجاهلية في سوق ذي المجاز وهو يقول: قولوا لا إله إلا الله تفلحوا، والناس مجتمعون عليه وراءه رجل وضئ الوجه أحول العينين ذو غدير تين يقول إنه صابئ كاذب يتبعه حيث ذهب فسألت عنه فقالوا: هذا عمه أبو لهب..

Artinya:

"Saya melihat Nabi Muhammad SAW. pada masa Jahiliah di pekan "Zul Majaz" bersabda: "Ucapkanlah Tiada Tuhan melainkan Allah niscaya kamu akan berbahagia!". Orang-orang berkumpul di sekitar beliau. Di belakang beliau seorang laki-laki, putih warna mukanya, juling matanya, mempunyai dua untaian rambut di kepalanya, berkata: "Dia (Muhammad) beragama sabi' dan pembohong". ia mengikuti Nabi ke mana saja beliau pergi, lalu saya bertanya: "Siapakah orang itu". Mereka menjawab: "Itu adalah pamannya sendiri Abu Lahab". (HR Ahmad)



Dengan ini dijelaskan bahwa Abu Lahab selalu menentang kebenaran dan menjauhkan orang mengikuti kebenaran, menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW., pendusta menentang beliau dan merendahkan nilai agama serta petunjuk yang beliau bawa.

111:3

Artinya : "Kelak dia akan masuk dalam api yang bergejolak". (QS. 111:3)

Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Abu Lahab akan masuk api neraka yang bergejolak dan merasakan panasnya azab neraka.

Maksudnya; sesungguhnya Abu Lahab akan mengalami kerugian, usahanya tidak akan berhasil dalam menentang agama Allah. Tidak ada gunanya harta, usaha dan daya upaya untuk itu, karena Allah yang meninggikan kalimah Rasul Nya, menyebar-luaskan dakwahnya. Abu Lahab akan diazab pada Hari Kiamat dengan neraka yang menyemburkan bunga apinya dan panasnya sangat hebat, yang disediakan Allah untuk orang-orang yang semacam Abu Lahab dari kalangan orang-orang kafir yang menentang Nabi, selain azabnya di dunia dengan kegagalan usahanya. Istrinya sebagai pembantu utama dalam usaha menentang dan menyakiti Rasulullah akan diazab juga bersama-sama. Selain daripada itu istrinya menyebar fitnah di mana-mana, menyebar berita-berita bohong dan menghidupkan api permusuhan.

111:4

Artinya : "Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar". (QS. 111:4)

Dalam ayat-ayat ini Allah menegaskan bahwa istri Abu Lahab akan diazab sebagaimana suaminya diazab. Istrinya bernama Arwah binti Harb, saudara perempuan Abu Sofyan bin Harb. Dia diazab karena usahanya menyebarkan fitnah dan memadamkan dakwah Nabi Muhammad SAW. Orang Arab mengatakan bahwa, orang yang berusaha menyebarkan dan merusak hubungan antara manusia adalah seolah-olah ia membawa kayu api antara manusia, seakan-akan dia membakar silahturrahmi antara mereka.

Adapula yang menyatakan bahwa istrinya itu menaruh duri, pecahan kaca dan kotoran pada jalan yang biasa dilalui oleh Nabi Muhammad SAW., untuk menyakiti beliau.

111:5

Artinya : "Yang di lehernya ada tali dari sabut". (QS. 111:5)

Dalam ayat ini Allah menyatakan keburukan perbuatan istri Abu lahab, rendah budinya dan jahat amal perbuatannya. Pada lehernya selalu ada seutas tali yang kuat, digunakannya untuk memikul duri-duri yang akan diletakkannya pada jalan yang dilalui Nabi. Ini adalah penghinaan untuk dia dan untuk suaminya.

Maksudnya, istri Abu Lahab begitu hebat usahanya untuk menyalakan permusuhan antara manusia, sehingga Allah mengisahkan dia sebagai seorang perempuan yang membawa kayu bakar yang digantungkan pada lehernya kemana saja ia pergi. Ini adalah seburuk-buruknya perumpamaan bagi seorang perempuan.

Telah diriwayatkan dari Said bin Musayyab; bahwa Ummu Jamil (panggilan istri Abu lahab) mempunyai sebuah kalung yang sangat mahal, ia berkata,: "Sesungguhnya saya akan mempergunakan harga kalung ini untuk memusuhi Muhammad", lalu Allah menggantikan kalung tersebut dengan kalung dari api neraka.

Kamis, 11 September 2014

Tafsir Al Qur'an Surat Al Ikhlas

بسم الله الرحمن الرحيم

112:1

​Artinya : "​
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa​"​
.

Dahhak meriwayatkan bahwa orang-orang musyrik mengutus kepada Nabi Muhammad SAW Amir bin Tufail, menyampaikan amanah mereka kepada Nabi, ia berkata: "Engkau telah memecah belahkan keutuhan kami, memaki-maki "tuhan" kami, berubah agama nenek moyangmu. Jika engkau miskin dan mau kaya kami berikan engkau harta. Jika engkau gila kami obati. Jika engkau ingin wanita cantik akan kami kawinkan engkau dengannya". Nabi menjawab:

لست بفقير ولا مجنون ولا هويت امرأة أنا رسول الله أدعوكم من عبادة الأصنام إلى عبادته. فأرسلوه ثانية وقالوا: قل له بين لنا جنس معبودك. امن ذهب أو من فضة؟ فأنزل الله هذه السورة.


Artinya:

"Aku tidak miskin, tidak gila, tidak ingin kepada wanita. Aku adalah Rasul Allah, mengajak kamu meninggalkan penyembahan berhala dan mulai menyembah Allah Yang Maha Esa", kemudian mereka mengutus utusannya yang kedua kalinya dan bertanya kepada Rasulullah. Terangkanlah kepada kami macam Tuhan yang engkau sembeh itu. Apakah Dia dari emas atau perak?", lalu Allah menurunkan surah ini. (HR. Dahhak)


Surah ini meliputi dasar yang paling penting dari risalah Nabi SAW. iaitu mentauhidkan Allah dan menyucikan-Nya serta meletakkan pedoman umum dalam beramal sambil menerangkan amal perbuatan yang baik dan yang jahat, menyatakan keadaan manusia sesudah mati mulai dari sejak berbangkit sampai dengan menerima balasannya berupa pahala atau dosa.

Telah diriwayatkan dalam hadis, "Bahwa surah ini sebanding dengan sepertiga Alquran," karena barang siapa menyelami artinya dengan bertafakur yang mendalam, niscaya jelaslah kepadanya bahwa semua penjelasan dan keterangan yang terdapat dalam Islam tentang tauhid dan kesucian Allah dari segala macam kekurangan merupakan perincian dari isi surah ini.

Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi-Nya menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan tentang sifat Tuhannya, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak tersusun dan tidak berbilang, karena berbilang dalam susunan zat berarti bahwa bagian kumpulan itu memerlukan bagian yang lain, sedang Allah sama sekali tidak memerlukan sesuatu apapun. Tegasnya keesaan Allah itu meliputi tiga hal: Dia Maha Esa pada zat-Nya, Maha Esa pada sifat-Nya dan Maha Esa pada afal-Nya.

Maha Esa pada zat-Nya berarti zat-Nya tidak tersusun dari beberapa zat atau bagian. Maha Esa pada sifat-Nya berarti tidak ada satu sifat makhlukpun yang menyamai-Nya dan Maha Esa pada af'al-Nya berarti hanya Dialah yang membuat semua perbuatan sesuai dengan firman-Nya.

إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون


Artinya:

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (Q.S. Yasin: 82).

112:2

​Artinya : "​

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu​"​
.

Pada ayat ini Allah menambahkan penjelasan tentang sifat Tuhan Yang Maha Esa itu, yaitu Dia adalah Tuhan tempat meminta dan memohon.

112:3

​Artinya : "​

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan​"​

,
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Maha Suci Dia dari mempunyai anak. Ayat ini juga menentang dakwaan orang-orang musyrik Arab yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dan dakwaan orang Nasrani bahwa Isa anak laki-laki Allah.

Dalam ayat lain yang sama artinya Allah berfirman:
فاستفتهم ألربك البنات ولهم البنون أم خلقنا الملائكة إناثا وهم شاهدون ألا إنهم من إفكهم ليقولون ولد الله وإنهم لكاذبون

Artinya:
Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah) "Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak-anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan (nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (Q.S. As Saffat: 149-152).

Dan Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan.

Dengan demikian Dia tidak sama dengan makhluk lainnya, Dia berada tidak didahului oleh tidak ada. Maha suci Allah dari apa yang tersebut.

Ibnu 'Abbas berkata: "Dia tidak beranak sebagaimana Maryam melahirkan Isa A.S. dan tidak pula diperanakkan. Ini adalah bantahan terhadap orang-orang Nasrani yang mengatakan Isa Al Masih adalah anak Allah dan bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah.

112:4



​Artinya: "​ dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

Dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa tidak ada yang setara dan sebanding dengan Dia dalam zat, Sifat dan perbuatan-Nya. Ini adalah tantangan terhadap orang-orang yang beriktikad bahwa ada yang setara dan menyerupai Allah dalam perbuatannya, sebagaimana pendirian orang-orang musyrik Arab yang menyatakan bahwa malaikat itu adalah sekutu Allah.

Untuk meresapkan arti ketauhidan kepada Allah yang terkandung dalam surah Al Ikhlas, maka kami mencantumkan pada akhir tafsir surah ini sebuah munajat kepada Allah yang diamalkan oleh mereka yang tekun melaksanakan ibadahnya:
بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وصحبه ومن والاه، يا من لا أرى سواه وإن تعددت المظاهر ولا أناجي إلا إياه وإن كثرت الظواهر ولا أبتغي إلا جدواه وإن تنوعت المصادر أسألك بحق توحيدك في الوجود وتعدد تجلياتك في الشهود وبحرمة ظهورك للبصائر واحتجابك عن المشاعر أن تقضي حاجتي إليك.... وإن لا تجعل فيها معولي إلا عليك وصلى الله على سيدنا (3 kali) محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه"

Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-nikmat-Nya dan seimbang nikmat tambahan-Nya. Semoga rahmat dan keselamatan dilimpahkan kepada Nabi penutup, Muhammad SAW yang tidak ada lagi Nabi sesudahnya dan kepada sekalian keluarganya, sahabat dan sekalian yang mencintainya. Ya Allah, Tuhan yang aku tidak melihat (dengan mata hatiku) selain Dia, walaupun banyak gejala-gejala nampak, dan yang aku tidak bermunajat melainkan kepada-Nya saja, walaupun banyak wujud-wujud di alam lahir dan yang aku tidak menginginkan melainkan manfaat-Nya walaupun banyak sumber-sumber pengambilannya. Aku mohon kepada-Mu dengan tawassul kepada keesaan-Mu di alam wujud dan berbilangnya tajalli (penampakan kekuasaan-Mu) di alam pancaindera dan dengan kehormatan nampaknya keagungan-Mu bagi mata hati dan tertutupnya Engkau dari jangkauan pancaindera, agar kiranya Engkau mengabulkan hajat permohonanku ini dan agar Engkau tidak membiarkan aku bersandar pada permohonanku ini; (sebutkan hajat yang dimaksud) apa hanya semata-mata kepada rahmat karunia-Mu saja dan semoga rahmat keselamatan dilimpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan kepada sekalian keluarganya dan sahabatnya. (3x).

Munajat ini mengandung pula permohonan dipenuhi segala hajat keperluan yang direnungkan ketika sampai kepada kalimat:

أن تقضي حاجتي إليك.

​ ​

Tafsir Al Qur'an Surat Al Falaq

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

​Artinya : "​
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh​"​
,

Dalam ayat-ayat berikut ini Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya termasuk juga seluruh kaum muslimin supaya selalu berlindung kepada Tuhan Pencipta semua makhluk agar terpelihara dari segala macam kejahatan atau akibat kejahatan yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk yang telah diciptakan-Nya

​"​
.

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

​Artinya : "​
dari kejahatan makhluk-Nya​"​
,



وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

​Artinya : "​
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita​"​
,


Kemudian dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa sebagian makhluk-makhluk-Nya sering menimbulkan kejahatan pada waktu malam bila segala sesuatu telah diliputi oleh kegelapan. Dalam pada itu keadaan malam bila telah gelap gulita menyebabkan kita takut dan gelisah, seakan-akan ada sesuatu yang tersembunyi dalam kegelapannya yang akan menyakiti kita sebagai pembantu musuh-musuh kita.

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

​Artinya : "​
dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul​"​
,

Dalam ayat ini Allah menambah bagian makhluk yang diminta agar kita terlindung dari kejahatan tukang sihir yang meniupkan mantera-mantera dengan maksud memutuskan tali kasih sayang dan mengoyak-ngoyak ikatan persaudaraan; seperti ikatan nikah dan lain-lain. Perbuatan sihir itu dapat mengubah kasih sayang antara dua teman yang akrab menjadi permusuhan. Penghasut membawa berita yang nampaknya benar dan sulit mendustakannya, sebagaimana dilakukan oleh tukang sihir dalam usahanya memisahkan suami istri.

Syekh Muhammad 'Abduh berkata: "Berkenaan dengan keterangan tersebut di atas, telah diriwayatkan hadis tentang Nabi SAW. yang disihir oleh Labid bin A'sam, yang sangat mengesankan pada pribadi Nabi; sehingga seakan-akan beliau mengerjakan sesuatu padahal beliau tidak mengerjakannya, atau mengambil sesuatu padahal beliau tidak mengambilnya. Lalu Allah memberitahukan kepadanya tentang tukang sihir itu. Kemudian dikeluarkan sihir itu dalam hatinya, lalu Nabi SAW. menjadi sehat kembali, lalu turunlah surah ini.

Nabi SAW. kena sihir sehingga menyentuh akal yang berhubungan langsung dengan jiwa beliau, karena itu orang-orang musyrik berkata, sebagaimana firman Allah.

إن تتبعون إلا رجلا مسحورا



Artinya:

"Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir". (Q.S. Al Isra': 47).



Yang wajib kita itikadkan bahwa Alquran adalah mutawatir dan menyangkal bahwa Nabi SAW. kena sihir, karena yang menyatakan demikian itu adalah orang-orang musyrik, Alquran mencela ucapan mereka itu.

Hadis tersebut seandainya termasuk di antara hadis-hadis sahih, tetapi dia tergolong hadis ahad yang tidak cukup untuk dijadikan dasar dalam akidah. Sedangkan kemaksuman nabi-nabi adalah merupakan akidah yang telah dipegangi dengan yakin. Terhindarnya Nabi SAW. dari sihir bukanlah berarti mematikan sihir secara keseluruhan. Mungkin seseorang yang kena sihir menjadi gila akan tetapi mustahil terjadinya bagi Nabi SAW. karena Allah menjaga dan melindunginya.

Dijelaskan bahwa surai Al Falaq ini adalah surah Makkiyah yang diturunkan sebelum hijrah menurut pernyataan "Ata", Hasan dan Jabir, sedang yang mereka tuduhkan bahwa Nabi SAW. kena sihir di Madinah, maka sangat lema untuk berpegang pada hadis tersebut dan untuk menyatakan hadis sahih.

Kita harus berpegang pada nas Alquran dan tidak perlu berpegang kepada hadis ahad tersebut.

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

​Artinya : "​
dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".

Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan bagi makhluk yang lain yang kita disuruh berlindung kepada-Nya, yaitu: "Kami berlindung kepada Engkau Ya Tuhan kami dari kejahatan orang-orang yang dengki bila ia melaksanakan kedengkiannya dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk menghilangkan nikmat orang yang dijadikan obyek kedengkiannya dengan bermacam-macam cara dan dengan mengadakan perangkap-perangkap untuk menjebak orang yang didengkinya jatuh ke dalam kemudaratan. Tipu muslihat yang dijalankannya itu adalah sangat licik sehingga sulit mengetahuinya. Tiada jalan untuk menghindarinya dan tidak ada jalan kecuali dengan memohon bantuan kepada Allah Maha Pencipta karena Dia-lah yang dapat menolak tipu dayanya, menghindari kejahatannya atau menggagalkan usahanya.

Tafsir Al Qur'an Surat An Naas

بسم الله الرحمن الرحيم

114:1

Artinya : "Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia".

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya termasuk pula di dalamnya seluruh umatnya agar memohonkan perlindungan kepada Tuhan yang menjadikan, menjaga, menumbuhkan, mengembangkan dan menjaga kelangsungan hidup manusia dengan nikmat dan kasih sayang-Nya serta memberi peringatan kepada mereka dengan ancaman-ancaman-Nya


114:2

Artiny: "Raja manusia".

Allah SWT menjelaskan bahwa Tuhan yang mendidik manusia itu adalah yang memiliki dan yang mengatur semua syariat, dan yang membuat undang-undang, dan yang membuat peraturan-peraturan dan hukum-hukum agama. Barangsiapa mematuhinya akan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.

114:3

Artinya : "Sembahan manusia"
.

Allah SWT menambah keterangan tentang Tuhan pendidik manusia ialah yang menguasai jiwa mereka dengan kehesaran-Nya. Mereka tidak mengetahui kekuasaan Allah itu secara keseluruhan, tetapi mereka tunduk kepada-Nya dengan sepenuh hatinya dan mereka tidak mengetahui bagaimana datangnya dorongan hati kepada mereka itu, sehingga dapat mempengaruhi seluruh jiwa raga mereka.

Mendahulukan kata "RABB" (pendidik) dari kata "Malik" dan dari kata "Ilah" karena didikan adalah nikmat Allah yang paling utama dan terbesar bagi manusia. Kemudian yang kedua diikuti dengan kata "Malik" (Raja) karena manusia harus tunduk kepada kerajaan Allah sesudah mereka dewasa dan berakal. Kemudian diikuti dengan kata "Ilah" (sembahan), karena manusia sesudah berakal menyadari bahwa hanya kepada Allah mereka harus tunduk dan hanya Dia saja yang berhak untuk disembah.

Allah menyatakan dalam ayat-ayat ini bahwa Dia Raja manusia, Pemilik manusia dan Tuhan manusia, bahkan Dia adalah Tuhan segala sesuatu. Tetapi di lain pihak manusialah yang membuat kesalahan dan kekeliruan dalam menyifati Allah sehingga mereka tersesat dari jalan lurus. Mereka mengadakan tuhan-tuhan lain yang mereka sembah dengan anggapan bahwa tuhan-tuhan itulah yang memberi nikmat dan bahagia serta menolak bahaya dari mereka, yang mengatur hidup mereka, menggariskan batas-batas yang boleh atau tidak boleh mereka lakukan. Mereka memberi nama tuhan-tuhan itu dengan pembantu-pembantunya dan menyangka bahwa tuhan-tuhan itulah yang mengatur segala gerak-gerik mereka.

Dalam ayat lain yang hampir sama artinya Allah berfirman:

اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون



Artinya:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.



Dan firman-Nya:

ولا يأمركم أن تتخذوا الملائكة والنبيين أربابا أيأمركم بالكفر بعد إذ أنتم مسلمون



Artinya:

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam!. (Q.S. Ali Imran: 80).




Maksudnya, dengan ini Allah memperingatkan manusia bahwa Dia-lah yang mendidik mereka sedang mereka adalah manusia-manusia yang suka berfikir dan Dia raja mereka dan Dia pula Tuhan mereka menurut pikiran mereka, maka tidak benarlah apa yang mereka ada-adakan untuk mendewa-dewakan diri mereka padahal mereka manusia biasa.

114:4

Artinya : "Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi"

Dalam ayat ini Allah memerintahkan manusia agar berlindung kepada Allah Rabbul Alamin dari kejahatan bisikan setan yang senantiasa bersembunyi di dalam hati manusia.

Bisikan dan was-was yang berasal dari godaan setan itu bila dihadapkan kepada akal yang sehat mesti kalah dan orang yang tergoda menjadi sadar kembali, karena semua bisikan dan was-was setan yang akan menyakiti mausia itu akan menjadi hampa bila jiwa sadar kembali kepada perintah-perintah agama. Begitu pula bila seorang menggoda temannya yang lain untuk melakukan suatu kejahatan, tetapi temannya itu berpegang kuat dengan perintah-perintah agama niscaya ia akan berhenti menggoda dan merasa kecewa karena godaannya itu tidak berhasil namun ia tetap menunggu kesempatan yang lain.

114:5

Artinya : "yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia"

114:6

Artinya : "dari (golongan) jin dan manusia".

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan tentang godaan tersebut, iaitu bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia, yang mungkin datangnya dari jin atau manusia, sebagaimana dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya Allah berfirman:

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن



Artinya:

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin". Q.S. (Al An'am): 112.



Setan-setan jin itu seringkali membisikkan suatu keraguan dengan cara yang sangat halus kepada manusia. Seringkali dia menampakkan dirinya sebagai penasehat yang ikhlas, tetapi bila engkau menghardiknya ia mundur dan bila diperhatikan bicaranya ia terus melanjutkan godaannya secara berlebih-lebihan.

Dalam hal ini Nabi SAW. telah bersabda:

ان الله تجاوز لأمتي عما حدثت أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم به "رواه أبو هريرة وخرجه مسلم



Artinya:



Sesungguhnya Allah SWT memaafkan dari umatku bisikan Jiwanya, selama ia belum mengamalkan atau mengucapkannya. HR. Bukhari dari Abu Hurairah.



Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa yang menyebabkan bisikan itu ada dua macam:


  1. Dari jin yaitu sebangsa makhluk yang halus yang tersembunyi yang tidak dapat dikenal tetapi hanya dapat dirasakan bekas bisikannya dalam diri kita. Bagi setiap manusia ada setannya, yaitu kekuatan batin yang mendorong dia berbuat jahat, yang membisikkan ke dalam jiwanya bisikan-bisakan jahat.

  2. Dari setan manusia; godaan manusia ini dapat kita saksikan dengan jelas, dengan melihat dan mendengarnya.



Tersebut dalam beberapa hadis tentang adanya belalai setan, hidung setan, paruh setan yang melekat di dada manusia atau di hati, itu semua adalah gambaran dan perumpamaan saja.

Surah ini dimulai dengan kata "Pendidik", karena itu Tuhan sebagai Pendidik manusia, berkuasa untuk menolak semua godaan setan dan bisikannya dari manusia.

Allah memberi petunjuk dalam surah ini agar manusia memohon pertolongan hanya kepada Allah saja sebagaimana Dia telah memberi petunjuk yang serupa dalam surah Al Ftihah, bahwa dasar yang terpenting dalam agama adalah menghadapkan diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah baik dalam ucapan, maupun perbuatan lainnya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari segala godaan setan yang ia sendiri tidak mampu menolaknya.

Tafsir Al Qur'an Surat Al Fatihah ayat 7

1:7

Artinya : "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".

Setelah Allah swt. mengajarkan kepada hamba-Nya untuk memohonkan kepada Allah agar selalu dibimbing-Nya menuju jalan yang lurus dan benar, maka pada ayat ini Tuhan menerangkan apa jalan yang lurus itu.

Sebelum Alqur'anul Karim diturunkan, Tuhan telah menurunkan kitab-kitab suci-Nya yang lain, dan sebelum Nabi Muhammad diutus Allah telah mengutus rasul-rasul, karena sebelum umat yang sekarang ini telah banyak umat terdahulu.

Di antara umat-umat yang terdahulu itu terdapat nabi-nabi, siddiqin yang membenarkan rasul-rasul dengan jujur dan patuh, syuhada yang telah mengorbankan jiwa dan harta untuk kemuliaan agama Allah, dan orang-orang saleh yang telah membuat kebajikan dan menjauhi larangan Allah.

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dan kita diajar Tuhan supaya memohonkan kepada-Nya, agar diberi-Nya taufik dan bimbingan sebagaimana Dia telah memberi taufik dan membimbing mereka. Artinya sebagaimana mereka telah berbahagia dalam aqaid, dan dalam menjalankan hukum-hukum serta peraturan-peraturan agama, mereka telah mempunyai akhlak dan budi pekerti yang mulia, maka demikian pulalah kita hendaknya. Dengan perkataan lain, Allah menyuruh kita supaya mengambil contoh dan tauladan kepada mereka yang telah terdahulu itu.

Timbul pertanyaan kenapakah Tuhan menyuruh kita mengikuti jalan mereka yang telah terdahulu itu, padahal dalam agama kita ada pelajaran-pelajaran hukum, petunjuk-petunjuk yang tak ada pada mereka?

Jawabnya: Sebetulnya agama Allah itu adalah satu, kendatipun ada perbedaannya, tetapi perbedaan itu ialah pada furu'-furu`nya, sedang pokok-pokoknya adalah serupa sebagai disebutkan di atas.
Sebagaimana di dalam umat-umat yang telah terdahulu itu terdapat orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Tuhan, maka terdapat pula di antara mereka orang-orang yang dimurkai Allah dan orang-orang yang sesat.

Orang yang dimurkai Allah itu ialah mereka yang tak mau menerima seruan Allah yang disampaikan oleh rasul-rasul, karena berlainan dengan apa yang mereka biasakan, atau karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, kendatipun telah jelas bahwa yang dibawa oleh rasul-rasul itulah yang benar. Masuk juga dalam golongan ini, mereka yang mulanya telah menerima apa yang disampaikan oleh rasul-rasul, tetapi kemudian lantaran sesuatu sebab mereka membelot, dan membelakangi pelajaran-pelajaran yang dibawa oleh rasul-rasul itu.

Di dalam sejarah banyak ditemukan orang-orang yang dimurkai Tuhan itu, sejak di dunia ini mereka telah diazab, sebagai balasan yang setimpal bagi keingkaran dan sifat angkara murka mereka. Umpamanya kaum `Ad dan Samud yang telah dibinasakan oleh Allah, yang sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka di Jazirah Arab. Begitu juga Firaun dan kaumnya yang telah dibinasakan Tuhan di Laut Merah. Mumi Firaun yaitu bangkainya telah dibalsem sampai sekarang masih ada disimpan dalam museum Mesir.

Adapun orang-orang yang sesat, ialah mereka yang tidak betul kepercayaannya, atau tidak betul pekerjaan dan amal ibadahnya serta rusak budi pekertinya.
Bila akidah seseorang tidak betul lagi, atau pekerjaan dan amal ibadahnya salah, dan akhlaknya telah rusak akan celakalah dia dan kalau sesuatu bangsa berkeadaan demikian akan jatuhlah bangsa itu.

Maka dengan ayat ini Allah mengajari hamba-Nya supaya memohonkan kepada-Nya agar terjauh dari kemurkaan-Nya, dan terhindar dari kesesatan, dan di dalamnya juga tersimpul suruhan Allah supaya manusia mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa yang telah terdahulu. Alangkah banyaknya dalam sejarah itu kejadian-kejadian yang dapat dijadikan iktibar dan pelajaran.
Dalam pada itu di dalam Alquranul Karim sendiri banyak ayat-ayat yang berkenaan dengan umat dan bangsa-bangsa yang dahulu. Boleh dibilang 75% isi Alquran adalah kisah dan cerita. Memang tak ada suatu juga yang lebih besar pengaruhnya kepada jiwa manusia daripada contoh-contoh dan perbandingan-perbandingan yang terdapat dalam cerita-cerita, kisah-kisah dan sejarah.

Tafsir Al Qur'an Surat Al Fatihah Ayat 6







1:6



Artinya: "Tunjukilah kami jalan yang lurus".

"Ihdi": Pimpinlah, tunjukilah, berilah hidayah
Arti "hidayah" ialah: Menunjukkan sesuatu jalan atau cara menyampaikan orang kepada orang yang ditujunya dengan baik.

Macam-macam hidayah petunjuk)

Allah telah memberi manusia bermacam-macam hidayah, yaitu:

1. Hidayah naluri (garizah)

 

Manusia begitu juga binatang-binatang, dilengkapi oleh Allah dengan bermacam-macam sifat, yang timbulnya bukanlah dari pelajaran, bukan pula dari pengalaman, melainkan telah dibawanya dari kandungan ibunya. Sifat-sifat ini namanya "naluri", dalam bahasa Arab disebut "garizah".

Umpamanya, naluri "ingin memelihara diri" (mempertahankan hidup). Kelihatan oleh kita seorang bayi bila merasa lapar dia menangis. Sesudah terasa di bibirnya mata susu ibunya, dihisapnyalah sampai hilang laparnya.

Perbuatan ini dikerjakannya tak seorang juga yang mengajarkan kepadanya, bukan pula timbul dari pengalamannya, hanyalah semata-mata ilham dan petunjuk dari Allah kepadanya untuk mempertahankan hidupnya.

Kelihatan pula oleh kita lebah membuat sarangnya, laba-laba membuat jaringnya, semut membuat lobangnya dan menimbun makanan dalam lubang itu. Semua itu dikerjakan oleh binatang-binatang tersebut ialah untuk mempertahankan hidupnya dan memelihara dirinya masing-masing dengan dorongan nalurinya semata-mata.
Banyak lagi naluri yang lain, umpamanya garizah ingin tahu, ingin mempunyai, ingin berlomba-lomba, ingin bermain, ingin meniru, takut dan lain-lain.

Sifat-sifat garizah

Garizah-garizah itu sebagai disebutkan terdapat pada manusia dan binatang, hanya perbedaannya ialah garizah manusia bisa menerima pendidikan dan perbaikan, tetapi garizah binatang tidak, sebab itulah manusia bisa maju tetapi binatang tidak, hanya tetap seperti sediakala.

Garizah-garizah itu adalah dasar bagi kebaikan sebagaimana dia pun juga dasar bagi kejahatan. Umpamanya karena garizah ingin memelihara diri, orang berusaha, berniaga, bertani, artinya mencari nafkah secara halal. Tetapi karena garizah "ingin memelihara diri" itu pulalah orang mencuri, menipu, merampok dan lain-lain. Karena garizah "ingin tahu" pulalah orang suka mencari-cari aib dan rahasia sesamanya, yang mengakibatkan permusuhan dan persengketaan. Demikianlah seterusnya dengan garizah-garizah yang lain.

Garizah-garizah itu tidak dapat dihilangkan dan tidak ada faedahnya membunuhnya. Ada ahli pikir dan pendidik yang hendak memadamkan garizah karena melihat seginya yang tidak baik (jahat) itu, sebab itu diadakan oleh mereka macam-macam peraturan untuk mengikat kemerdekaan anak-anak supaya garizah itu jangan tumbuh, atau mana yang telah tumbuh menjadi mati. Tetapi perbuatan mereka itu besar bahayanya terhadap pertumbuhan akal, tubuh dan akhlak anak-anak. Dan bagaimanapun orang berusaha hendak membunuh garizah itu, namun ia tidak akan mati.

Boleh jadi karena kerasnya tekanan dan kuatnya rintangan terhadap sesuatu garizah, maka kelihatan dia telah padam tetapi manakala ada yang membangkitkannya, timbullah dia kembali. Oleh karena itu kendatipun garizah itu dasar bagi kebaikan, sebagaimana dia juga dasar bagi kejahatan, tetapi kewajiban manusia bukanlah menghilangkannya, hanya mendidik dan melatihnya, supaya dapat dimanfaatkan dan disalurkan ke arah yang baik.

Allah telah menganugerahkan kepada manusia bermacam-macam garizah untuk jadi hidayah (petunjuk) yang akan dipakai dengan cara bijaksana oleh manusia itu.

2. Hidayah Pancaindra
Karena garizah itu sifatnya belum pasti sebagai disebutkan di atas, maka ia belum cukup untuk jadi hidayah bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Sebab itu oleh Allah swt. manusia dilengkapi lagi dengan pancaindra. Pancaindra itu sangat besar harganya terhadap pertumbuhan akal dan pikiran manusia, sebab itu ahli-ahli pendidikan berkata:

الحواس أبواب المعرفة

Artinya:

Pancaindra itu adalah pintu-pintu pengetahuan.

Maksudnya ialah dengan jalan pancaindra itulah manusia dapat berhubungan dengan alam yang di luar, dengan arti bahwa sampainya sesuatu dari alam yang di luar ini ke dalam otak manusia adalah pintu-pintu pancaindra itu.

Tetapi garizah ditambah dengan pancaindra, juga belum cukup lagi untuk jadi pokok-pokok kebahagiaan manusia. Banyak lagi benda-benda dalam alam ini yang tidak dapat dilihat oleh mata. Banyak macam suara yang tidak dapat didengar oleh telinga. Malah selain dari alam mahsusat (yang dapat ditangkap oleh pancaindra), ada lagi alam ma'qulat (yang hanya dapat ditangkap oleh akal).

Selain dari pancaindra itu hanya dapat menangkap alam mahsusat, tangkapannya tentang yang mahsusat itupun tidak selamanya betul, kadang-kadang salah. Inilah yang dinamakan dalam ilmu jiwa "illusi optik" (tiupan pandangan), dalam bahasa Arab disebut, "khida'an nazar". Sebab itu manusia membutuhkan lagi hidayah yang kedua itu. Maka dianugerahkan lagi oleh Allah hidayah yang ketiga, yaitu "hidayah akal".

3. Hidayah akal (pikiran)
a. Akal dan kadar kesanggupannya

Dengan adanya akal itu dapatlah manusia menyalurkan garizah ke arah yang baik agar garizah itu menjadi pokok bagi kebaikan, dan dapatlah manusia membetulkan kesalahan-kesalahan pancaindranya, membedakan buruk dengan baik. Malah sangguplah dia menyusun mukadimah untuk menyampaikannya kepada natijah, mempertalikan akibat dengan sebab, memakai yang mahsusat sebagai tangga kepada yang ma'qulat, mempergunakan yang dapat dilihat, diraba dan dirasai untuk menyampaikannya kepada yang abstrak, maknawi dan gaib, mengambil dalil dari adanya makhluk untuk adanya khalik, dan begitulah seterusnya.

Tetapi akal manusia juga belum lagi memadai untuk membawanya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat di samping berbagai macam garizah dan pancaindra itu.

Apalagi pendapat akal itu bermacam-macam, yang baik menurut pikiran si A belum tentu baik menurut pandangan si B, malah banyak manusia yang masih mempergunakan akalnya, atau akalnya dikalahkan oleh hawa nafsu dan sentimennya. Hingga yang buruk itu menjadi baik dalam pandangannya dan yang baik itu menjadi buruk.

Dengan demikian nyatalah bahwa garizah ditambah dengan pancaindra ditambah pula dengan akal belum lagi cukup untuk menjadi hidayah yang akan menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup jasmani dan rohani, di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu manusia membutuhkan suatu hidayah lagi, di samping pancaindra dan akalnya itu, yaitu hidayah agama yang dibawa oleh para rasul `alaihimus shalatu wassalam.

b. Bibit agama dan akidah tauhid pada jiwa manusia

Dalam pada itu kalau diperhatikan agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang diciptakan oleh manusia (Al-Adyan Al-Wad'iyyah) kelihatan pada jiwa manusia telah ada bibit-bibit suka beragama. Yang demikian itu karena manusia itu mempunyai sifat merasa berhutang budi suka berterima kasih dan membalas budi kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Maka di kala diperhatikan dirinya dan alam yang di sekelilingnya, umpamanya roti yang dimakannya, tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya, binatang ternak yang digembalakannya, matahari yang memancarkan sinarnya, hujan yang turun dari langit yang menumbuhkan tanam-tanaman, akan merasa berutang budilah dia kepada "suatu Zat" yang gaib yang telah berbuat baik dan melimpahkan nikmat yang besar itu kepadanya.

Didapatnyalah dengan akalnya bahwa Zat yang gaib itulah yang menciptakannya, yang menganugerahkan kepadanya dan kepada jenis manusia seluruhnya, segala sesuatu yang ada di alam ini, segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk memelihara diri dan mempertahankan hidupnya.

Karena dia merasa berutang budi kepada suatu Zat Yang Gaib itu, maka dipikirkannyalah bagaimana cara berterima kasih dan membalas budi itu, atau dengan perkataan lain bagaimana cara "menyembah Zat Yang Gaib itu".

Akan tetapi masalah bagaimana cara menyembah Zat Yang Gaib itu, adalah suatu masalah yang sukar, yang tidak dapat dicapai oleh akal manusia. Sebab itu di dalam sejarah kelihatan bahwa tidak pernah adanya keseragaman dalam hal ini. Bahkan akal pikirannya akan membawanya kepada kepercayaan membesarkan alam di samping membesarkan Zat Yang Gaib itu.

Karena pikirannya masih bersahaja dan karena belum dapat dia menggambarkan di otaknya bagaimana menyembah "Zat Yang Gaib", maka dipilihlah di antara alam ini sesuatu yang besar, atau yang indah, atau yang banyak manfaatnya, atau sesuatu yang ditakutinya untuk jadi pelambang bagi Zat Yang Gaib itu.

Pernah dia mengagumi matahari, bulan dan bintang-bintang, atau sungai-sungai, binatang dan lain-lain, maka disembahnyalah benda-benda itu, sebagai lambang bagi menyembah Tuhan atau Zat Yang Gaib itu, dan diciptakannyalah cara-cara beribadah (menyembah) benda-benda itu.

Dengan ini timbullah pula suatu macam kepercayaan, yang dinamakan "Kepercayaan menyembah kekuatan alam", sebagai yang terdapat di Mesir, Kaldania, Babilonia, Assyiria dan di tempat-tempat lain di zaman purbakala.
Dengan keterangan itu kelihatanlah bahwa manusia menurut fitrahnya suka beragama, suka memikirkan dari mana datangnya alam ini, dan ke manakah kembalinya.
Bila dia memikirkan dari mana datangnya alam ini, akan sampailah dia pada keyakinan tentang adanya Tuhan, bahkan akan sampailah dia kepada keyakinan tentang keesaan Tuhan itu (tauhid), karena akidah (keyakinan) tentang keesaan inilah yang lebih mudah, dan lebih lekas dipahami oleh akal manusia. Karena itu dapatlah kita tegaskan bahwa manusia itu menurut nalurinya adalah beragama tauhid.

Sejarah telah menerangkan bahwa bangsa Kaldania pada mulanya adalah beragama tauhid, barulah kemudian mereka menyembah matahari, planet- planet dan bintang-bintang yang mereka simbolkan dengan patung-patung. Sesudah Raja Namruz meninggal, mereka pun mendewakan dan menyembah Namruz itu. Bangsa Assyiria pun pada asalnya beragama tauhid, kemudian mereka telah lupa kepada akidah tauhid itu dan mereka persekutukanlah Tuhan dengan binatang-binatang, dan inilah yang dipusakai oleh orang-orang Babilonia.

Adapun bangsa Mesir, maka bila diperhatikan nyanyian-nyanyian yang mereka nyanyikan dalam upacara-upacara peribadatan, jelaslah bahwa bukan seluruh bangsa Mesir purbakala itu orang-orang musyrik dan wasani, melainkan di antara mereka juga ada orang-orang muwahhidin, penganut akidah tauhid. Di dalam nyanyian-nyanyian itu terdapat ungkapan berikut:

"Dialah Tuhan Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya"
"Dia mencintai seluruh makhluk, sedang dia sendiri tak ada yang menciptakan-Nya"
"Dialah Tuhan Yang Maha Agung, Pemilik langit dan bumi dan pencipta seluruh makhluk"

Umat manusia yang dengan akalnya itu telah sampai kepada akidah tauhid. Akidah tauhid ini sering menjadi kabur, atau tidak murni lagi, dan jadilah mempersekutukan Tuhan yang menonjol di antara mereka. Biar pun pendeta-pendeta mereka masih tetap dalam ketauhidannya, akan tetapi pendeta-pendeta ini kadang-kadang takut atau segan untuk memberantas kepercayaan mempersekutukan Tuhan itu, bahkan ikut hanyut dalam arus masyarakat, yakni arus mempersekutukan Tuhan.

Dapat ditegaskan bahwa akidah tauhid ini tidak pernah lenyap sama sekali, melainkan kepercayaan kepada adanya suatu Zat Yang Maha Esa itu tetap ada. Dialah Pencipta seluruh yang ada ini. Tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang lain itu mereka anggap hanyalah sebagai pembantu dan pelayan atau simbol Yang Maha Esa itu.

c. Pendapat Bangsa Arab sebelum Islam tentang Khalik (Pencipta)

Bangsa Arab sendiri pun sebelum datang agama Islam, kalau ditanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi ini?" Mereka menjawab, "Allah." Dan kalau ditanyakan, "Adakah Al-Lata dan Al-Uzza itu menjadikan sesuatu yang ada alam ini"? Mereka menjawab, "Tidak." Mereka sembah dewa-dewa itu hanya untuk mengharapkan perantaraan dan syafaat dari mereka terhadap Tuhan yang sebenarnya. Allah swt. berfirman menceritakan perkataan musyrikin Arab itu:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Artinya:

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan (kedudukan) kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Q.S Az Zumar: 3)

d. Kepercayaan tentang akhirat bisa dicapai oleh akal
Manakala manusia itu memikirkan ke manakah kembalinya alam ini, akan sampailah dia pada keyakinan bahwa di balik hidup di dunia yang fana ini akan ada lagi hidup di hari kemudian yang kekal dan abadi. Tetapi dapatkah manusia dengan akal dan pikirannya semata-mata mengetahui apakah yang perlu dikerjakan atau dijauhinya sebagai persiapan untuk kebahagiaan di hari kemudian (hari akhirat) itu? Jawabnya tentu saja tidak, sejarah pun telah membuktikan hal ini.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa manusia telah diberi Allah akal untuk jadi hidayah baginya, di samping garizah dan pancaindra. Tetapi hidayah akal itu belumlah mencukupi untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat.

Begitu juga manusia mempunyai tabiat suka beragama, dan dengan akalnya dia kadang-kadang telah sampai kepada tauhid. Akan tetapi tauhid yang telah dicapainya dengan akalnya itu sering pula menjadi kabur dan tidak murni lagi.

Dalam pada itu manusia dengan mempergunakan akalnya juga dapat sampai kepada kesimpulan tentang adanya akhirat, akan tetapi hidayah akal itu belumlah mencukupi untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Maka untuk menyampaikan manusia kepada akidah tauhid yang murni, yang tidak dicampuri sedikit juga oleh kepercayaan-kepercayaan menyembah dan membesarkan selain Allah, dan untuk membentangkan jalan yang benar yang akan ditempuhnya dalam perjalanan mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dan untuk jadi pedoman bagi hidupnya di dunia ini, dia membutuhkan hidayah yang lain di samping hidayah-hidayah yang telah disebutkan itu. Maka didatangkanlah oleh Allah hidayah yang keempat yaitu "agama" yang dibawa oleh para rasul.

4. Hidayah agama
a. Pokok-pokok agama ketuhanan

Karena hal-hal yang disebutkan itu, maka diutuslah oleh Allah rasul-rasul untuk membawa agama yang akan menunjukkan kepada manusia jalan yang harus mereka tempuh untuk kebahagiaan mereka dunia dan akhirat.
Adalah yang mula-mula ditanamkan oleh rasul-rasul itu kepercayaan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, guna membersihkan iktikad manusia dari kotoran syirik (mempersekutukan Tuhan).

Rasul membawa manusia kepada kepercayaan tauhid itu dengan melalui akal dan logika, yaitu dengan mempergunakan dalil-dalil yang tepat dan logis. (Ingatlah kepada soal-jawab antara Nabi Ibrahim dengan Namruz, Nabi Musa dengan Firaun, dan seruan-seruan Alquran kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka mempergunakan akal).

Di samping kepercayaan kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa, rasul-rasul juga membawa kepercayaan tentang akhirat dan malaikat-malaikat.
Percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, serta adanya malaikat dan hari kemudian itu, itulah yang dinamakan Al-Iman bil Gaib (percaya kepada yang gaib). Dan itulah yang jadi pokok bagi semua agama Ketuhanan, dengan arti bahwa semua agama yang datangnya dari Tuhan mempercayai keesaan Tuhan, serta malaikat dan hari akhirat.

Di samping `aqaid (kepercayaan-kepercayaan) yang disebutkan itu, rasul-rasul juga membawa hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran.
Hukum-hukum dan peraturan-peraturan ini berlain-lainan, artinya apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim tidak sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan apa yang dibawa oleh Nabi Isa tidak serupa dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Sebabnya ialah karena hukum-hukum dan peraturan-peraturan itu haruslah sesuai dengan keadaan tempat dan masa. Maka syariat yang dibawa oleh nabi-nabi itu adalah sesuai dengan masanya masing-masing. Jadi yang berlain-lainan itu ialah hukum-hukum furu` (cabang-cabang), sedangkan pokok-pokok hukum agama seperti akidah adalah sama.

Berhubung Muhammad saw. adalah seorang nabi penutup maka syariat yang dibawanya, diberi oleh Tuhan sifat-sifat tertentu agar sesuai dengan segala masa dan keadaan.

b. Hidayah yang dimohonkan kepada Tuhan

Agama Islam sebagai hidayah dan senjata hidup yang penghabisan, atau jalan kebahagiaan yang terakhir, telah dianugerahkan Tuhan, tetapi adakah orang pandai mempergunakan senjata itu, dan adakah semua hamba Allah sukses dalam menempuh jalan yang dibentangkan oleh Tuhan.
Tidak banyak manusia yang pandai menerapkan agama, beribadat (menyembah Allah) sebagai yang diridai oleh yang disembah, bahkan pelaksanaan syariat tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh Pembuat syariat itu.

Karena itu kita diajari Allah memohonkan kepada-Nya agar diberi-Nya ma`unah, dibimbing dan dijaga-Nya selama-lamanya serta diberi-Nya taufik agar dapat memakai semua macam hidayah yang telah dianugerahkan-Nya itu menurut semestinya. Garizah-garizah supaya dapat disalurkan ke arah yang baik, pancaindra supaya berfungsi betul, akal supaya sesuai dengan yang benar, tuntunan-tuntunan agama agar dapat dilaksanakan menurut yang dimaksud oleh yang menurunkan agama itu dengan tidak ada cacat, janggal dan salah.

Tegasnya manusia yang telah diberi Tuhan bermacam-macam hidayah yang disebutkan di atas (garizah-garizah, pancaindra, akal dan agama) belum dapat mencukupkan semata-mata hidayah-hidayah itu saja, tetapi dia masih membutuhkan maunah dan bimbingan dari Allah (yaitu taufik-Nya).
Maka ma
unah dan bimbingan itulah yang kita mohonkan dan kepada Allah sajalah kita hadapkan permohonan itu.

Dengan perkataan lain, Allah telah memberi kita hidayah-hidayah tersebut, tak ubahnya seakan-akan Dia telah membentangkan di muka kita jalan raya yang menyampaikan kepada kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi, maka yang dimohonkan kepada-Nya lagi ialah "membimbing kita dalam menjalani jalan yang telah terbentang itu".
Dengan ringkas hidayah dalam ayat "ihdinassiratal mustaqim" ini berarti "taufik" (bimbingan), dan taufik itulah yang dimohonkan di sini kepada Allah.
Taufik ini dimohonkan kepada Allah sesudah kita berusaha dengan sepenuh tenaga, pikiran dan ikhtiar, karena berusaha dengan sepenuh tenaga adalah kewajiban kita, tetapi sampai berhasil sesuatu usaha adalah termasuk kekuasaan Allah. Dengan ini kelihatanlah pertalian ayat ini dengan ayat yang sebelumnya. Ayat yang sebelumnya Allah mengajari hamba-Nya supaya menyembah memohonkan pertolongan kepada-Nya, sedangkan pada ayat ini Allah menerangkan apa yang akan dimohonkan, dan bagaimana memohonkannya.

Maka tak ada pertentangan antara kedua firman Allah tersebut dan firman Allah yang ditujukan kepada Nabi yang berbunyi:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya:

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S Asy Syura: 52)

Dan firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Artinya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allahlah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S Al Qasas: 56)

Sebab yang dimaksud dengan hidayah pada ayat pertama, ialah menunjukkan jalan yang harus ditempuh, dan ini memang adalah tugas nabi. Tetapi yang dimaksud dengan hidayah pada ayat kedua ialah membimbing manusia dalam menempuh jalan itu dan memberikan taufik agar sukses dan berbahagia dalam perjalanannya, dan ini tidaklah masuk dalam kekuasaan Nabi, hanya adalah hak Allah semata-mata.

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya:

Jalan yang lurus (yang menyampaikan kepada yang dituju). (Q.S Al Fatihah: 6)

Apakah yang dimaksud dengan jalan lurus itu?
Di atas telah diterangkan bahwa rasul-rasul telah membawa `aqaid (kepercayaan-kepercayaan) hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak, dan pelajaran-pelajaran. Pendeknya telah membawa segala sesuatu yang perlu untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Maka aqaid, hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran itulah yang dimaksud dengan jalan lurus itu, karena dialah yang menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai disebutkan.
Jadi dengan menyebut ayat ini seakan-akan kita memohon kepada Tuhan: "Bimbing dan beri taufiklah kami, ya Allah dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama kami. Betulkanlah kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan hukum, peraturan-peraturan, serta pelajaran-pelajaran agama kami. Jadikanlah kami mempunyai akhlak yang mulia, agar berbahagia hidup kami di dunia dan akhirat".

Tafsir Al Qur'an Surat Al Fatihah Ayat 5

1:5

Artinya : "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."

Di dalam ayat-ayat yang telah disebutkan empat macam dari sifat-sifat Tuhan, yaitu:


  • Pendidik semesta alam

  • Maha Pemurah

  • Maha Penyayang

  • Dan Yang menguasai hari pembalasan.



Sifat-sifat yang disebutkan itu adalah sifat-sifat kesempurnaan yang hanya Allah sajalah yang mempunyainya. Sebab itu pada ayat ini Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bahwa Allah sajalah yang patut disembah, dan kepada-Nya sajalah seharusnya manusia memohonkan pertolongan, dan bahwa hamba-Nya haruslah mengikrarkan yang demikian itu.

"Iyyaka" (hanya kepada Engkaulah).

Susunan ayat-ayat ini membawa pengertian "pengkhususan" yaitu pengkhususan "ibadah" kepada Allah.

Jadi arti ayat ini:

"Kepada Engkau sajalah kami tunduk dan berhina diri, dan kepada Engkau sajalah kami memohonkan suatu pertolongan".

Pertolongan yang khusus dimohonkan kepada Allah ialah tentang sesuatu yang di luar kemampuan dan kekuasaan manusia.

"Iyyaka" dalam ayat ini diulang dua kali, gunanya untuk menegaskan bahwa ibadat dan isti`anah itu masing-masing khusus dihadapkan kepada Allah. Selain dari itu untuk dapat mencapai kelezatan munajat (berbicara) dengan Allah. Karena bagi seorang hamba Allah yang menyembah dengan segenap jiwa dan raganya tak ada yang lebih nikmat dan lezat pada perasaannya daripada bermunajat dengan Allah.

Baik juga diketahui bahwa dengan memakai "Iyyaka" itu berarti menghadapkan pembicaraan kepada Allah, dengan maksud menghadirkan Allah swt. dalam ingatan, seakan-akan Dia berada di muka kita, dan kepada-Nya dihadapkan pembicaraan dengan khusyuk dan tawaduk.

Seakan-akan kita berkata:

"Ya Allah, Zat yang wajibul wujud. Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Yang menjaga dan memelihara semesta alam. Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda. Yang berkuasa di hari pembalasan. Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami meminta pertolongan. Karena hanya Engkau yang berhak disembah dan hanya Engkau yang dapat menolong kami".

Dengan cara yang seperti itu orang akan lebih khusyuk di dalam menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran Yang disembahnya itu.

Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:

أن تعبد الله كأنك تراه

Artinya:

Hendaklah engkau menyembah Allah itu seakan-akan engkau melihat-Nya. (H.R Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab)

Karena surah Al-Fatihah mengandung ayat munajat (berbicara) dengan Allah menurut cara yang diterangkan merupakan rahasia diwajibkan membacanya tiap-tiap rakaat dalam salat, karena itu jiwanya ialah munajat dengan menghadapkan diri dan memusatkan ingatan kepada Allah.

"Na'budu" pada ayat ini didahulukan menyebutkannya dari "nasta`iinu", karena menyembah Allah itu adalah suatu kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Tetapi pertolongan dari Tuhan kepada seseorang hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka seakan-akan Tuhan mengajar hamba-Nya supaya menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya.

Melihat kata-kata "nabudu" dan "nastaiinu" (kami menyembah, kami minta tolong), bukan abudu" dan "astaiinu" (saya menyembah dan saya minta tolong) adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia itu, dan tidak selayaknya mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah, seakan-akan penunaian kewajiban beribadat dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna kecuali kalau dikerjakan dengan bersama-sama.
Kedudukan tauhid di dalam ibadat dan sebaliknya

Arti "ibadat" sebagai disebutkan di atas ialah tunduk dan berhina diri kepada Allah, yang disebabkan oleh kesadaran bahwa Allah yang menciptakan alam ini, Yang menumbuhkan, Yang mengembangkan, Yang menjaga dan memelihara serta Yang membawanya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain hingga tercapai kesempurnaannya.

Tegasnya ibadat itu timbulnya dari perasaan tauhid, maka orang yang suka memikirkan keadaan alam ini, yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bahkan yang mau memperhatikan dirinya sendiri, yakinlah dia bahwa di balik alam yang zahir ada Zat yang gaib yang mengendalikan alam ini, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, yakni Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui dan sebagainya. Maka tumbuhlah dalam sanubarinya perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Zat Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui itu.

Perasaan inilah yang menggerakkan bibirnya untuk menuturkan puji-pujian, dan yang mendorong jiwa dan raganya untuk menyembah dan berhina diri kepada Allah Yang Maha Kuasa itu sebagai pernyataan bersyukur dan membalas budi kepada-Nya.

Tetapi ada juga manusia yang tidak mau berpikir, dan selanjutnya tidak sadar akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, sering melupakan-Nya, sebab itulah maka tiap-tiap agama disyariatkan bermacam-macam ibadat, gunanya untuk mengingatkan manusia kepada kebesaran dan kekuasaan Allah itu.

Dengan keterangan ini kelihatanlah bahwa tauhid dan ibadat itu pengaruh-mempengaruhi dengan arti tauhid menumbuhkan ibadat dan ibadat memupuk tauhid.
Pengaruh ibadat terhadap jiwa manusia

Tiap-tiap ibadat yang dikerjakan karena didorong oleh perasaan yang disebutkan itu, niscaya ada kesannya kepada tabiat dan budi pekerti orang yang beribadat itu. Umpamanya orang yang mendirikan salat karena sadar akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada-Nya, akan terjauhlah dia dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, yang dilarang Allah. Dengan demikian salatnya itu akan mencegahnya dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu, sesuai dengan firman Allah swt.:

29:45

Artinya:

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitu juga ibadat puasa. Ibadat ini akan menimbulkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang yang melarat dan miskin pada diri orang yang berpuasa itu. Dan seterusnya dengan ibadat-ibadat yang lain. Tetapi ibadat yang bukan ditimbulkan oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah, dan bukan pula didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Allah itu, hanya karena turut-turutan, atau karena memelihara tradisi yang sudah turun-temurun, bukanlah ibadat yang sebenarnya, dan kendatipun dia mempunyai rupa dan bentuk ibadat, tetapi tidak ada mempunyai jiwa ibadat itu, tak ubahnya dengan gambar atau patung, bagaimana pun juga miripnya dengan manusia, tidaklah dinamai manusia. Selanjutnya ibadat yang semacam itu tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadat itu.

Berusaha berdoa dan bertawakal

"Isti`anah" (memohon pertolongan) sebagai disebutkan di atas khusus dihadapkan kepada Allah, dengan arti bahwa tidak ada yang berhak dimohonkan pertolongannya kecuali Allah.

Dalam pada itu, pada ayat yang lain Allah menyuruh manusia bertolong-tolongan dalam mengerjakan kebaikan. Allah berfirman:

Surat Al Maa'idah

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Adakah pertentangan antara dua ayat itu?
Tidak
Tercapainya sesuatu maksud, atau terlaksananya suatu pekerjaan dengan baik adalah tergantung kepada cukupnya syarat-syarat yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan itu, dan tidak adanya rintangan-rintangan yang akan menghalanginya.

Manusia telah diberi Allah tenaga, baik yang berupa pikiran maupun yang berupa kekuatan tubuh, untuk dipakai guna mencukupkan syarat-syarat, atau menolak rintangan-rintangan dalam menuju suatu maksud, atau mengerjakan sesuatu pekerjaan. Tetapi ada di antara syarat-syarat itu yang tidak kuasa manusia mencukupkannya, sebagaimana di antara rintangan itu ada yang di luar kekuasaan manusia menolaknya. Begitu pula ada di antara syarat-syarat itu atau di antara halangan-halangan itu yang tidak dapat diketahui. Maka kendatipun menurut pikirannya dia telah mencukupkan semua syarat-syarat yang diperlukan, dan telah menjauhkan semua rintangan-rintangan yang menghalangi, tetapi hasil pekerjaannya itu belum lagi sebagai yang dicita-citakannya. Jadi ada hal-hal yang tidak masuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia. Itulah yang dimintakan pertolongan khusus kepada Allah. Sebaiknya tentang sesuatu yang termasuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia, dia disuruh bertolong-tolongan, supaya tenaga menjadi kuat, dan agar ada pada masing-masing manusia sifat cinta-mencintai, harga-menghargai, dan gotong-royong.

Dengan perkataan lain, manusia disuruh Allah berusaha dengan sekuat tenaga, dan disuruh tolong-menolong, bantu-membantu. Di samping menjalankan ikhtiar dan usahanya itu, dia harus pula berdoa, memohon taufik, hidayah dan ma`unah. Ini hendaknya dimohonkannya khusus kepada Allah, karena hanyalah Dia yang kuasa memberinya. Sesudah itu semua, barulah dia bertawakal kepada-Nya.

Ibadat itu sendiri pun sesuatu pekerjaan yang berat, sebab itu haruslah dimintakan maunah dari Allah supaya semua ibadat terlaksana sebagai yang dimaksud oleh agama. Maka seseorang menuturkan bahwa hanya kepada Allahlah kita beribadat, diikuti lagi dengan pernyataan bahwa kepada-Nya saja minta pertolongan, terutama pertolongan agar amal ibadat terlaksana sebagaimana mestinya. Ayat di atas, sebagai telah disebutkan, mengandung tauhid, karena beribadat semata-mata kepada Allah dan meminta maunah khusus kepada-Nya, adalah intisari agama, dan kesempurnaan tauhid.

Ibadat itu sendiri pun sesuatu pekerjaan yang berat, sebab itu haruslah dimintakan maunah dari Allah supaya semua ibadat terlaksana sebagai yang dimaksud oleh agama. Maka seseorang menuturkan bahwa hanya kepada Allahlah kita beribadat, diikuti lagi dengan pernyataan bahwa kepada-Nya saja minta pertolongan, terutama pertolongan agar amal ibadat terlaksana sebagaimana mestinya. Ayat di atas, sebagai telah disebutkan, mengandung tauhid, karena beribadat semata-mata kepada Allah dan meminta maunah khusus kepada-Nya, adalah intisari agama, dan kesempurnaan tauhid.

(Tafsir Departemen Agama RI)